Rabu, 12 Januari 2011


ABSTRAKSI
Strategi adalah suatu seni yang menggunakan kemampuan sumber daya lingkungan secara efektif. Dengan aliansi manajemen, maka suatu perusahaan menyadari keterbatasan sumber daya manajerial dan kompetensi teknologi untuk secara mandiri menghadapi lingkungan dan peluang yang makin terbuka. Suatu aliansi biasanya membawa berbagai sumber daya komplementer untuk mampu mengerjakan suatu kegiatan dan menciptakan sesuatu yang bernilai yang tidak dapat dihasilkan oleh satu perusahaan tunggal. Melalui aliansi, mediasi antar perusahaan, menjadi lebih professional, serta adanya peningkatan efektifitas melalui proses belajar dari mitra aliansi.

Penelitian dari BAB yang kami pelajari dan pahami ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang motivasi yang mendorong aliansi manajemen dengan alat analisis yang digunakan adalah analisis
deskriptif yaitu untuk memberi gambaran umum tentang motivasi melakukan aliansi.

Demikian abstrak yang kami buat, karena hanya ini yang kami pelajari dari BAB sepuluh dengan topik strategi aliansi strategi. Sekian dan terima kasih.

Minggu, 09 Januari 2011

STRATEGI ALIANSI STRATEJIK

10.1 FAKTOR PENDORONG ALIANSI  STRATEJIK
Aliansi stratejik (strategic alliance) merupakan fenomena yang sedang naik daun. Setidaknya, sebuah jurnal bisnis terkemuka, Harvard Business Review, edisi Juli-Agustus 1994, memuat beberapa artikel yang secara khusus membahas seni dan praktik aliansi bisnis. Fenomena aliansi ini memang bukan yang baru, yang barangkali baru adalah skala cakupannya, menjamurnya, dan fakta bahwa aliansi menjadi strategi central bagi banyak perusahaan dalam era globalisasi ekonomi. Argumentasinya sederhana.
            Salah satu bentuk kerja sama yang dilakukan adalah melalui aliansi stratejik. Kerja sama dalam bentuk aliansi akan membawa banyak manfaat bagi perusahaan. Salah satu kecenderungan yang amat mencolok dalam ekonomi global dewasa ini adalah pertumbuhan dan penyebaran aliansi stratejik dengan berbagai bentuk kolaborasinya, baik antar perusahaan maupun antargrup dalam skala internasional. Untuk bersaing dalam arena global, siapa pun tidak dapat menanggung biaya tetap yang sedemikian besar. Biaya dan risiko untuk mendirikan jaringan distribusi, logistic, manufaktur, penjualan, dan litbang di setiap pasar kunci di seluruh dunia akan menjadi sangat besar bila ditanggung sendiri.
            Menurut Kenichi Ohmae (1989), bahwa syarat yang diperlukan dalam aliansi adalah bergesernya focus perhatian dari ROI (Return On Inveestment) menjadi ROS (Return On Sale). Kesimpulan Ohmae ini sejalan dengan pengamatan Sasaki (1993) menganai aktivitas kolaborasi jepang sejak dasawarsa 1950-an yang berubah dari mula-mula memusatkan diri terutama untuk mendapatkan technological know-how dari luar negeri menjadi memfokuskan pada pertumbuhan penjualan pasar di dunia.
            Tujuan utama aliansi stratejik adalah memungkinkan suatu perusahaan atau grup untuk mencapai tujuan tertentu yang tidak dapat dicapai dengan usaha sendiri. Dengan lain , suatu aliansi selalu membagi risiko sekaligus keuntungan dengan cara menanggung pengambilan keputusan bersama untuk bidang tertentu. Karena itu, aliansi stratejik tidak sama dengan merger. Dapat juga dimengerti bahwa alas an rasional ditempunya aliansi stratejik adalah memanfaatkan keunggulan suatu perusahaan dan mengompensasi kelemahannya dengan keunggulan yang dimiliki sang mitra bisnis. Asliansi stratejik dapat terjadi dalam bidang litbang, hingga pengolahan, distribusi, atau pemasaran.

            Menyimpulkan bahwa adanya 3 aspek fundamental dari aliansi bisnis :
1.      Aliansi harus membawa manfaat bagi mitra kerja yang terlibat, namun aliansi tidak hanya sekedar perjanjian.
2.      Aliansi berarti kolaborasi (menciptakan nilai baru secara bersama-sama) dan tidak hanya sekedar pertukaran (mendapatkan suatu pengembalian atas apa yang anda berikan).
3.      Pelaku aliansi tidak dapat “dikontrol” oleh system yang formal namun memerlukan jaringan keterkaitan interpersonal dan infrastruktur internal yang meningkatkan proses belajar.

10.1.1 Faktor-Faktor Eksternal
Dunning (1995) mengatakan bahwa perubahan lingkungan eksternal ini mencerminkan ketidakmampuan sumber daya internal untuk mencapai keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh pemahaman yang lengkap mengenai gerakan dan strategi kompetitif suatu perusahaan,. Narula dan Dunning (1998) menjelaskan dimensi perubahan lingkungan eksternal yang mendorong aliansi adalah sebagai berikut :
1.      Proses globalisasi menjadi kekuatan utama dibalik pertumbuhan aktivitas nilai tambah lintas batas Negara, yang pada gilirannya meningkatkan saling ketergantungan ekonomi. Perkembangan globalisasi membawa serangkaian reaksi, tetapi melalui apa yang telah disebut “alliance capitalism”.
2.      Meningkatkan internasionalisasi dan persaingan menimbulkan kebutuhan untuk bekerja sama secara regional. Di samping itu, karena “keseluruhan bisnis adalah local”.
3.      Perkembangan teknologi yang cepat, siklus umur produk yang lebih pendek, dan kenaikan biaya litbang (R&D) telah mendorong perusahaan-perusahaan untuk mewujudkan riset bersama dan berbagai sumber daya yang langka.
4.      Munculnya banyak pesaing baru dalam bisnis tradisional telah memaksa perusahaan yang ada untuk membina hubungan dan memperluas jaringan yang erat.
5.      Pergeseran produk menuju kompetensi memaksa perusahaan untuk keluar dan mencari pengetahuan yang saling melengkapi dan kompetensi yang baru.

10.1.2 Faktor-faktor Internal yang Menjadi Motif dan Tujuan Aliansi
Dapat dijelaskan oleh kondisi internal dan eksternal perusahaan. Rangsangan utama untuk beraliansi adalah kebutuhan untuk bekerja sama untuk mencapai fleksibilitas, kompetensi inti, dan insetif yang berasal dati otonomi, pada waktu yang sama memanfaatkan sumber daya yang saling melengkapi bagi pembelanjaan dan efisiensi.
            Motif dan Tujuan dibentuknya aliansi stratejik :
1.      Teknologi (know-how)
2.      Asset financial
3.      Persaingan
4.      Akses pada segmen pasar
5.      Akses terhadap input, output, dan pengalaman manajemen
6.      Sumber daya dan kapabilitas yang saling melengkapi
10.2 KELEBIHAN DAN KERUGIAN ALIANSI
dalam beberapa hal, aliansi berhasil melakukannya, namun kebanyakan yang lainnya tidak. Ini table dari kelebihan dan kelemahan strategi aliansi.
KELEBIHAN
KELEMAHAN
Akses terhadap aset pelengkap
Kurangnya kontrol
Kecepatan
Membantu pesaing potensial

Kelangsungan jangka panjang dipertanyakan

Sukar untuk mengintegrasikan pembelajaran

10.2.1 Kelebihan
Kelebihan dari strategi aliansi bermacam-macam. Terutama difokuskan pada pegabungan sumber daya untuk dapat berkompetisi di bisnis yang baru. Aliansi biasanya muncul ketika perusahaan mempunyai sumber daya yang mampu member nilai agar dapat masuk ke bisnis baru. Misalnya saja perusahaan-perusahaan Jepang pada tahu 1970-an dan 1980-an.

10.2.2 Kelemahan
Dalam kelemahan strategi aliansi ini berkaitan dengan masalah kepemimpinan, kontribusi dengan rekan aliansi, pengawasan kontribusi, dan strategi dalam bisnis. Aliansi dapat berhasil apabila di dalam\bekerja sama mempunyai tujuan untuk pemenuhan sumber daya memperoleh akses terhadap aset dan kemampuan yang tidak dimiliki perusahaan atau pembagian biaya dan risiko secara umum. Biasanya aliansi didesain sebagai hubungan jangka pendek, karena aliansi dianggap sebagai bentuk strategi yang lemah apabila diterapkan untuk jangka panjang.
10.3 PETA GLOBAL ALIANSI STRATEJIK
Secara umum aliansi stratejik dalam skala global dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu :
1.      Aliansi patungan (alliance joint venture), dengan cirri mitra kerja (partner) tetap sebagai badan usaha yang terpisah.
2.      Aliansi khusus fungsional (funcitional-spesific alliance), dengan cirri tidak terjadi pemisahaan badan hokum dan aliansi terbatas pada satu atau beberapa fungsi khusus tertentu.
Perbedaan kedua kategori aliansi ini dapat dilihat dibawah ini :
Alliance Joint Ventures
Fungsional-Specifik Competitive Alliances
•Badan hokum terpisah dengan, atau kadang-kadang tanpa kontribusi ekuitas.
•Badan hokum tidak terpisah
•Kerja sama dapat terbatas pada suatu fungsi atau mencakup fungsi yang luas.
•Kerja sama terbatas pada satu atau sejumlah fungsi tertentu, misalnya : (a) dalam litbang (kerja sama dalam riset produk baru dan teknologi; (b) persetujuan distribusi silang (perluasan produk tertentu dengan memasarkan produk perusahaan lain dalam suatu pasar terntu; (c) persetujuan lisensi silang, hanya ditambahkan kemungkinan menciptakan standar global untuk teknologi tertentu; (d) persetujuan kerja sama manufaktur (untuk mencapai skala ekonomis dan mengatasi kekurangan/kelebihan kapasitas produksi; (e) joint bidding
•Adalah umum bagi partner untuk bekerja sama dalam suatu produk atau segmen pasar tertentu, sementara pada saat yang sama tetap beroperasi sebagai pesaing di pasar yang lain.


            Yang paling terpopuler dipraktikan adalah aliansi patungan (joint ventures), yaitu kerja sama bisnis di mana satu atau lebih perusahaan bergabungan bersama untuk menangi satu/beberapa jenis operasi . patungan pada dilakukan antara dua perusahaan, suatu perusahaan dengna pemerintah, atau suatu perusahaan transnasional (TNC) (Kuncoro,1994) dengan pelaku bisnis local. Contoh actual adalah 65 partner dalam Inmarsat, yaitu suatu konsorsium yang mengoperasikan suatu satelit komunikasi yang secara simultan berperan sebagai pemilik yang menginvestasikan modal sebagai pelanggan yang memanfaatkan satelit, sebagai pemasok teknologi, sebagai regulator yang menetapkan kebijakan, dan sekaligus sebagai pesaing yang menawarkan jasa seperti Inmarsat.
Patut dicatat, dalam setiap kontrak patungan beberapa cirri sebagai berikut biasanya dianut, yaitu:
1.      Kontribusi oleh partner dalam uang, property, usaha, pengetahuan, skill, atau aset lain adalah bentuk yang umum.
2.      Kerja sama dalam property sering dimasukkan dalam patungan.
3.      Hak untuk saling mengontrol manajemen perusahaan.
4.      Harapan akan keuntungan (presence of adventure).
5.      Hak untuk berbagai keuntungan.
6.      Tujuan biasanya dibatasi menjadi satu keterlibatan atau ad hoc enterprise.
Beberapa contoh usaha patungan dan tujuannya
Partner
Produk
Tujuan Stratejik
AT&T/Olivetti
komputer
Pasar internasional
Boeing/Mitsubisi/fuji/Kawasaki
Pesawat kecil
Menekan biaya, berbagai teknologi
Corning/Ciba-Geigy
Peralatan lab
Pasar baru
Ford/Measurex
Otomatisasi pabrik
Menekan bioaya
GM/Toyota
Mobil
Menekan biaya
GTE/Fujitsu
Peralatan komunikasi
Menekan biaya, meningkatkan pemasaran
Kodak/Cetus
Diagnostic bioteknologi
Pasar baru, distribusi lebih baik
3M/Harris
Mesin fotokopi
Meningkatkan pemasaran
US,Steel/Pohon Iron&Steel
Baja
Meningkatkan modal, ekspansi pasar
Westinghouse/GE
Semikonduktor “power”
Menekan biaya, meningkatkan pemasaran

Boleh dikatakan hampir semua produsen mobil eropa terlibat dalam perjanjian aliansi. Sebagai contoh, fiat dan Peugeot berkolaborasi dalam memproduksi mesin dan komponen : fiat dan Volvo juga mempunyai hubungan yang erat.
10.4 ALIANSI STRATEJIK ANTARA KLM DAN NORTWEST
Sejarah mencatat, aliansi KLM dan Northwest merupakan aliansi maskapai penerbangan yang pertama didunia yang amat terintegrasi, saling menguntungkan, namun tetap beroperasi sebagai perusahaan yang terpisah. Kemitraan antara kedua maskapai penerbangan ini dimulai pada tahun 1989 ktika KLM mengakusisi 19,3% saham Northwest.
Mengapa Aliansi ?
Kemitraan antara KLM dan Northwest dimulai pada tahun 1991. Dua alasan mengapa KLM dan Northwest memilih patungan tanpa menciptakan perusahaan baru (Wahyuni, 2003: 171-2). Perama, untuk memaksimalkan jaringan dan memberikan pilihan jalur penerbangan yang paling efisien kepada para pelanggan. Kedua, peraturan industri penerbangan tidak mendorong kedua perusahaan ini untuk  membentukan patungan murni dengan badan hukum baru.
Dari sisi KLM,alasan aliansi adalah mencari cara untuk memperluas jaringannya dan dapat bertahan dalam persaingan global.
            Northwest adalah perusahaan penerbangan dari Amerika Utara yang memulai operasinya pada tahun 1926. Perusahaan ini memiliki 48.708 karyawan, memiliki 40 tujuan internasional dengan armada 428 pesawat dan mengangkut 54,7 juta penumpang pada tahun 2001. Perusahaan AS tertua ini merupakan maskapai penerbangan terbesar keempat didunia. Ada 3 alasan yang mendasari keputusan manajemen KLM. Pertama dilihat dari cakupan bisnis,Northwest memiliki kombinasi yang kuat dalam penumpang dan kargo, yang juga merupakan bisnis inti KLM. Kedua, mengingat potensi pasar pasifik, sangat penting bagi KLM untuk mengombinasikan pasar di AS, Eropa dan Pasifik. Ketiga, pada waktu itu Northwest merupakan maskapi internasional Amerika yang memiliki pengalaman yang cukup dibandingkan maskapai Amerika yang lain seperti Delta dan United Airlines.
Fase Operasional
Untuk mengelola dan mengkoordinasi aktivitas aliansi ini, kedua maskapai penerbangan sepakat mendirikan Alliance Steering committee dan sejumlah tim keja, yang terdiri dari subbisnis penumpang,keuangan, operasi dan kargo secara teratur mengadakan pertenuan setiap 3 bulan di Amsterdam atau Minneapolis.
Kontribusi Mitra Bisnis
Adanya perbedaan kontribusi kapasitas tidak menyebabkan perbedaan konflik karena mereka secara bersama memutuskan jadwal penerbangan.
Pengendalian
Settlement control aliansi ini dapat dibagi ke dalam 3 aspek, yaitu:
1.      Pada umumnya,alliance steering committe secara keseluruhan pengawasan aliansi ini.
2.      Kontrol sedikit berbeda saat dihubungkan dengan pasar
3.      Kedua mitra (partner) memiliki keahlian yang berbeda yang menghasilkan pengendalian divisi yang berbeda dan menciptakan pertukaran keahlian yang berbeda pula diantara kedua perusahaan.
Spill-over of control
Mengenail Spill-over of control,Northwest tidak memiliki masalah karena keterbukaan dengan perusahaan merupakan unsur yang vital.
Konflik
Ada banyak Perspektif yang berbeda-beda yang berkaitan dengan konflik :
·         Orientasi Jangka pendek Northwest dan orientasi jangka panjang KLM
·         Memposisikan aliansi pada pasar kompetitif
·         Strategi bagaimana menghadapi aliansi pesaing seperti Lufthanaslta/ Air France



Komunikasi
Komunikasi membuat mereka dapat salingberbincang, membangun kepercayaan dan mengurangi ketidakpastian dalam kemitraannya.
Tahap Evaluasi
Keuntungan dibagi merata, operasi pun melonjak dua kali lipat sejak 1989, dan menawarkan 32 penerbangan setiap hari yang melayani 32 kota.

Pelajaran yang dapat dipetik
Aliansi antara KLM dan Northwest menunjukkan contoh yang menarik mengenai cara perusahaan mengelola secara kritis hubungan kerja sama mereka dan mengatasi masalah-masalah persaingan yang muncul diantara mereka.

Fase Formasi
Kedua perusahaan penerbangan mempunyai motivasi yang sama dalam membangn aliansi yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori : perluasan jaringan diseluruh dunia, perbaikan dalam pendapatan bisnis dan mencapai suatu tingkat biaya kompetitif.

Fase Operasi
·         Kontribusi Mitra Bisnis
·         Pengandalian Wilayah Rawan Konflik dan Hubungan dengan Kontribusi Mitra Kerja dan pengendalian
·         Peran Komunikasi dalam aliansi
Fase Evaluasi
Kedua perusahaan penerbangan memandang posotif terhadap aliansi ini, sangat optimis. Kedua belah pihak menyadari betapa penting aliansi ini untuk bisnis mereka yang memberikan pendapatan 100% di pasar Trans-Atlantik.
10.5 PETA ALIANSI STRATEJIK GRUP SALIM
Grup salim dipimpin oleh Liem Sie Liong (alias sudono salim), taipan kelahiran Cina, tepatnya dari desa Niuzhai, kecmatan Kaikou, kabupaten Fuqing, propinsi Fuyjian. Pada awal 1990-an total penjualan grup ini  mencapai Rp.20 triliun, yang dihasilkan oleh sekurangnya 427 perusahaan dalam grup, dan mempekerjakan sekitar 135.000 karyawan. Total penjualan grup salim mencpai 39% dari total penjualan 10 konglomerat terbesar Indonesia. Fakta terakhir ini menyebabkan grup salim dinobatkan sebagai konglomerat terbesar dinegri ini, dn bahkan di Asia Tenggara , melampaui grup-grup bisnis di Singapura, Taiwan, Hong Kong, dan sedikit dibwah Korea Selatan.
10.6  KESIMPULAN
Tidak Dapat dipungkiri bahwa globalisasi Ekonomi dan persaingan merupakan faktor eksternal utama pendorong aliansi stratejik. Peta global aliansi stratejik, patungan KLM-Northwest,dan aliansi grup salim merefleksikan betapa aliansi stratejik telah berperan dalam pertumbuhan perusahaan.

latihan soal bab STRATEGI ALIANSI STRATEJIK

1.    Setelah membaca kasus salim group, pelajran apa yang dapat kita ambil berkenaan dengan :
a.    Pola aliansi stratejik yang dilakukan Salim Group  ?
Jawab :
-          Pola pertama : Grup Salim sebagai  “pendatang baru” dan berada di belakang layar daLam perkembangan bisnis tersebut di pasar dalam negri. Partner liem umumnya adalah “muka lama” dalam bisnis itu yang telah berpengalaman dan lebih ahli daripada Group Salim.
-          Pola kedua : di terapkan dimana Group Salim menjadi pelopor dalam bidang bisnis baru di mana pihak swasta baru pertama kali memasukinya. Ditariknya dua partner pribumi dalam pola ini agaknya untuk melicinkan jalan mendekati “pusat kekuasaan”.
b.    Keunikan strategi aliansi Salim Group ?
Jawab :
Strategi aliansi Salim dikombinasikan dengan strategi “mendominasi pasar”,baik dengan strategi  integrasi horizontal maupun integrasi vertikal. Integrasi  vertikal dilakukan dengan merger, akusisi, dan pendirian perusahaan baru dalam industri yang sama. Sedangkan integrasi vertikal adalah kontrol terhadap produksi yang berkaitan sejak dari produksi bahan mentah hingga tahap distribusi dan penjualan.
2.     Sebutkan faktor-faktor yang memperkuat alasan perusahaan untuk melakukan aliansi stratejik.
Jawab :
-          Faktor Pendorong Eksternal
1.   Proses globalisasi menjadi kekuatan utama di balik pertumbuhan aktivitas nilai tambah lintas batas negara, yang juga meningkatkan saling ketergantungan ekonomi
2.   Meningkatnya internasionalisasi dan persaingan menimbulkan kebtuhan untuk bekerja sama secara regional
3.   Perkembangan teknologi yang cepat, siklus umur produk yang lebih pendek, dan kenaikan biaya litbang mendorong perusahaan-perusahaan untuk mewujudkan riset bersama dan berbagi sumber daya yang langka
4.   Munculnya banyak pesaing baru dalam bisnis tradisional memaksa perusahaan yang ada untuk membina hubungan dan memperluas jaringan yang erat
5.   Pergeseran dari produk menuju kompetensi memaksa perusahaan untuk keluar dan mencari pengetahuan yang saling melengkapi dan kompetensi yang baru
-     Faktor Pendorong Internal
          Adanya kebutuhan untuk bekerja sama untuk mencapai fleksibilitas, kompetensi inti, dan insentif yang berasal dari otonomi, pada waktu yang sama memanfaatkan sumber daya yang saling melengkapi bagi pembelajaran dan efisiensi
          Motif dan tujuan dibentuknya aliansi stratejik meliputi: Teknologi (know-how); Aset finansial; Persaingan; Akses pada segmen pasar; Akses terhadap input, output, dan pengalaman manajemen; Sumber daya dan kapabilitas yang saling melengkapi.
3.    Sebutkan kelemahan dan kekuatan aliansi stratejik.
Kelebihan
Kelemahan
        Akses terhadap aset pelengkap
        Kecepatan
        Kurangnya kontrol
        Membantu pesaing potensial
        Kelangsungan jangka panjang dipertanyakan
        Sukar untuk mengintegrasikan pembelajaran

 Jawab :

4.    Sebutkan dua aliansi stratejik internasional dan ciri-cirinya.
Jawab :

Alliance Joint Ventures
Functional-Spesific Competitive Alliances
       Badan hukum terpisah dengan, atau kadang-kadang tanpa kontribusi ekuitas
        Kerja sama dapat terbatas pada suatu fungsi atau mencakup fungsi yang luas
       Adalah umum bagi partner untuk bekerja sama dalam suatu produk atau segmen pasar tertentu, sementara pada saat yang sama tetap beroperasi sebagai pesaing di pasar yang lain
          Badan hukum tidak terpisah
           Kerja sama terbatas pada satu atau sejumlah fungsi tertentu, misalnya: (a) dalam litbang; (b) persetujuan distribusi silang; (c) persetujuan lisensi silang; (d) persetujuan kerjasama manufaktur; (e) joint bidding



5.    Pelajaran penting apa yang dapat diambil dari aliansi stratejik antara KLM dan Northwest ?
Jawab :
Fase Formasi
          Kedua perusahaan penerbangan mempunyai motivasi yang sama, yaitu: perluasan jaringan di seluruh dunia, perbaikan dalam pendapatan bisnis, dan mencapai suatu tingkat biaya kompetitif
Fase Operasi
          Variabel yang perlu diperhatikan: (1) Kontribusi mitra bisnis, (2) Pengendalian, (3) Wilayah yang rawan konflik dan hubungan dengan kontribusi mitra kerja dan pengendalian, (4) Peranan komunikasi dalam aliansi
Fase Evaluasi
          Kedua perusahaan sangat optimis dan memandang positif aliansi ini. Kedua perusahaan itu juga menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen jangka panjang